Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Share on linkedin

Menghidupkan Nisfu Sya’ban, Santri-Santriwati Dar El Fachri diingatkan Agar Menjaga Akhlakul Karimah

Dar El Fachri – Di antara bulan-bulan yang mulia, bulan Sya’ban merupakan salah satu di antara bulan yang mulia tersebut. Terdapat banyak keistemewaan di bulan Sya’ban, terutama malam Nisfu Sya’ban, yang merupakan malam mulia setelah lailatul qadr. Berbagai amaliah menjadi rutinan dibaca pada malam tersebut, semacam sudah menjadi tradisi terutama bagi masyarakat muslim Indonesia menghidupkan malam nisfu Sya’ban.

Berbagai riwayat bermunculan terkait amalih yang dibaca pada malam Nisfu Sya’ban, salah satunya pembacaan Yasiin tiga kai berturut-turut. Dijelaskan dalam kitab Asna al Mathalib fi ahadits Mukhtalifah al Maratib, karya Muhammad bin Darwisy bin Muhammad al Hut al Biruti asy Syafi’i (1209-1276 H/1795-1859 M)

وَأَمَّا قِرَاءَةُ سورة يٰسٓ لَيْلَتَهَا بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَالدُّعاَءِ الْمَشْهُورِ فَمِنْ تَرْتِيبِ بَعْضِ أَهْلِ الصَّلَاحِ مِنْ عِنْدِ نَفْسِهِ. قِيلَ هُوَ الْبُونِيُّ وَلَا بَأْسَ بِمِثْلِ ذَلِكَ

“Adapun tradisi yasinan pada malam Nishfu Sya’ban setelah Shalat Maghrib dan doanya yang masyhur, maka merupakan kreasi salah seorang ahli shalah (ulama shaleh). Ada yang menyatakan bahwa yang dimaksud adalah al-Buni. Mengamalkan tradisi seperti Yasinan Malam Nishfu Sya’ban itu tidak apa-apa (boleh)”.

Ibnu Rajab al-Hanbali, dalam kitabnya “Latha`if al-Ma’arif Fii ma Li Mawasim al ‘Am Min al Wadhaif”, juga mengungkapkan: “Para tabi’in negeri Syam seperti Khalid bin Ma’dan Makhul, Luqman bin ‘Amir dan selainnya mengagungkan malam Nishfu Sya’ban, dan bermujahadah dengan beribadah di dalamnya.

Terlepas dari diperbolehkan atau tidaknya di kalangan para ulama, ketua Yayasan Dar El Fachri Jakarta, Ustadzah Fachriah Hanum, LC., MA, lebih mengajak untuk bermuhasabah dan memperbanyak dzikir serta taubat di Yayasan Dar El Fachri, Pondok Labu, Jakarta Selatan, Minggu (29/3/2021).

Amaliahpun dimulai selepas shalat magrib, dengan membaca istighifar, shalawat dan dilanjutkan pembacaan surah Yasiin tiga kali. Sesudah Isya, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Maulid Barzanji dan doa malam Nisfu Sya’ban, dan ditutup dengan penyampaian mauidzah dari Ustadzh Fachriah.

Ustdazh Fachriah menuturkan, bahwa pelaksanaan menghidupkan malam nisfu Sya’ban bukan sekedar pembacaan amaliah. Tetapi bagaimana seseorang itu mampu merenungi perbuatan yang telah ia perbuat. Apakah ia mengalami sebuah perubahan dalam kebaikan, atau malah lebih buruk dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Di malam Nisfu Sya’ban ini, setiap-tiap kita akan mengalami titik zero atau dalam kondisi nol. Di mana amal ibadah kita akan diangkat ke langit. Karena itu, perbanyaklah dzikir dan taubat di malam Nisfu Sya’ban,” tuturnya.

Beliau juga menambahkan dalam nasehatnya tersebut yang disampaikan di hadapan para santri dan santriwati agar memelihara kualitas ibadah.

“kita harus mengalami perubahan dalam diri kita, jangan jadi biasa-biasa saja. Tapi bagaimana agar lebih baik, dan meningkatkan kualitas ibadah serta kebaikan.”

Terakhir, dalam mauidzah yang beliau sampaikan, ia berpesan kepada para santri dan santriwatinya agar selalu menjaga akhlakul karimah sebagaimana akhlak yang dimiliki oleh Rasulullah SAW.

“Bagaimana agar akhlak kita mampu mengikuti akhlak Rasulullah, karena semakin bertambahnya usia semakin pula bertambahnya tanggung jawab. Segala apa yang kita miliki, anggota tubuh, umur, semuanya harus didewasakan, yaitu dengan berakhlak mulia agar semakin dikenal di langit Allah Ta’ala.” (Pen/Rifki)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *